Selasa, 05 Mei 2009

bi rate turun lagi


BI Rate merupakan suatu kebijakan moneter pemerintah melalui Bank Sentral yaitu Bank Indonesia. Kebijakan penurunan dan kenaikannya merupakan kebijakan yang kondusif untuk memenuhi permintaan domestik serta untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah, penurunan BI Rate sangat perlu untuk mengurangi ketidakpastian dan kerentanan baik disektor keuangan maupun rill, namun kebijakan penurunan harus diikuti dengan kebijakan stimulus fiscal yang dijanjikan pemerintah. BI Rate juga merupakan salah satu referensi bagi perbankan untuk price margin produk landing dan funding-nya, bila BI Rate turun maka cost of fund turun dan dimaintanance margin tertentu agar sustainable. Efek langsung terhadap penurunan BI Rate juga sangat tepat dalam memberikan pilihan terhadap bank atas dana yang menganggur karena mendapat bunga yang rendah mendingan diberikan ke sektor produktif atau rill. Yang menjadi tantangan perbankan saat ini adalah dengan turunnya BI Rate bagaimana cara dan upaya untuk menurunkan bunga simpanan yang akhirnya dapat menurunkan bunga pinjaman. Sudah diketahui bersama respon perbankan atas penurunan suku bunga BI Rate terhadap penurunan suku bunga kredit tidak secepat respon pada saat BI Rate naik,adapun hal itu dikarenakan ada tahapan-tahapan penyesuaian yang membutuhkan waktu cukup lama. Misalnya floating 3 bulan dan Fix bisa 1 tahun inipun kalau dalam situasi ekonomi yang normal jika saat krisis seperti saat ini bisa memakan waktu yang lebih lama lagi. Tidak dipungkiri beberapa bank termasuk bank plat merah sudah menurunkan tingkat suku bunga kreditnya antara 0,5 % hingga 1 % hingga saat ini, sementara BI Rate pada Desember 2008 bercokol pada angka 9,25 % dan di 5 Mei 2009 sudah menjadi 7,25 % atau 200 basis poin (bps). 

BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (05/05) kembali memangkas bunga acuan BI Rate dari 7,5 persen menjadi 7,25 persen, mengingat laju inflasi semakin landai. Pada April terjadi deflasi 0,31 persen dan inflasi tahunan 7,31 persen. Bank Indonesia menilai, sampai saat ini kondisi perbankan nasional tetap terjaga baik. Rasio kecukupan modal masih cukup tinggi, yakni 17,4 persen dengan Gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali di bawah 5 persen. 

Sementara itu likuiditas perbankan, termasuk likuiditas dalam pasar uang antarbank, menurut BI, semakin membaik, demikian juga dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat. Namun diakui BI, penyaluran kredit dalam triwulan I-2009 masih belum optimal. BI berharap kredit akan meningkat dalam triwulan II-2009. BI menilai, gambaran dan perkembangan ekonomi global yang membaik direspons secara positif seperti terlihat dari berbagai indikator keuangan, seperti indeks pasar saham dunia, dan spread premi risiko yang menurun tajam.

Hal ini mendorong kembalinya modal masuk ke emerging markets termasuk ke Indonesia, yang berdampak pada penguatan mata uang Rupiah, peningkatan indeks harga saham gabungan dan perbaikan yield surat utang negara. "Namun, Bank Indonesia mencermati bahwa perekonomian dunia diperkirakan masih mengalami kontraksi meskipun dengan laju yang melambat, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia 2009 masih akan berada pada kisaran 3-4 persen, didukung oleh permintaan domestik yang cukup baik, disertai kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan semula. Sementara itu inflasi 2009 diperkirakan dapat mencapai batas bawah kisaran 5-7 persen. Adapun cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2009 meningkat mencapai 56,57 miliar dollar AS.

BI harus lebih berhati-hati, sebab, jika bunga terlalu kecil, ia khawatir para pelaku pasar akan banyak berpindah ke dollar Amerika Serikat (AS). Bahkan, mereka akan memindahkan investasinya ke negara lain. Hal itu bisa saja terjadi karena investasi di Indonesia dinilai sudah tidak menarik, Pemangkasan suku bunga acuan karena ada beberapa kondisi yang cukup mendukung BI melakukannya, semisal, tren penguatan nilai rupiah dalam beberapa hari terakhir.
   
Nilai rupiah menurut kurs tengah BI pada tanggal 1 Mei ini menguat menjadi Rp 10.655,00, dibandingkan dengan dua hari sebelumnya Rp 10.859,00 per dollar AS. Sementara itu, pada perdagangan kemarin (3/5) rupiah kembali menguat menjadi Rp 10.485,00 per dollar AS. Selain itu, lanjut dia, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga membuat banyak dana masuk ke Indonesia. Harapan dengan penurunan BI rate, akan ada sentimen positif yang dapat menjaga tren kenaikan harga saham. Terutama, milik emiten-emiten perbankan. Apalagi, hal itu bisa menjadi pertimbangan BI untuk bisa kembali memangkas suku bunga. Akan tetapi, kemungkinan penurunannya lagi tidak akan banyak berpengaruh pada suku bunga bank.

Kondisi ini karena hingga sekarang kalangan perbankan akan lebih memilih berhati-hati dan tidak terlalu agresif untuk meningkatkan kredit. Salah satunya, karena mereka mewaspadai peningkatan tingkat kredit macet "Non Performing Loan/NPL". Perbankan masih melihat kondisi makro ekonomi dan menyediakan cadangan likuiditas agar posisi tetap aman, namun kalangan perbankan diprediksi akan memangkas suku bunga secara agresif setelah semester satu ini. Saat ini, mereka masih menunggu perkembangan stabilitas keamanan dan politik pasca-pemilihan Presiden 8 Juli 2009. Saat ini, bank akan lebih banyak berkonsolidasi secara internal dan merancang rencana ekspansi pada semester kedua. Selain itu, perbankan juga tidak akan secara terus-menerus membiarkan dananya tersimpan di SBI yang bunganya terus menurun. Ke depan, mereka akan berupaya meningkatkannya agar catatan perolehan labanya tinggi pada akhir tahun.

Penurunan BI Rate selalu saja dikaitkan dengan inflasi. Inflasi itu sendiri adalah suatu keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli; sering pula diikuti menurunnya tingkat tabungan dan investasi karena meningkatnya konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang ; menurut ilmu ekonomi modern, ada dua jenis inflasi yaitu inflasi karena dorongan biaya (Cost Push Inflation) yaitu kenaikan upah memaksa industry untuk menaikkan harga guna menutup biaya upah dalam kontrak baru yang mengakibatkan adanya pola siklus upah dan harga yang lebih tinggi, pengendaliannya lebih baik dengan perlambatan tingkat pertumbuhan perekonomian daripada melalui kebijakan moneter ataupun fiscal. Sedangkan yang kedua inflasi karena meningkatnya permintaan (Demand Pull Inflation) yaitu permintaan yang tinggi atas kredit merangsang pertumbuhan produk nasional bruto yang selanjutnya menarik harga lebih lanjut keatas. Menurut ahli ekonomi, mereka percaya bahwa inflasi karena meningkatnya permintaan dapat dikendalikan melalui kombinasi kebijakan bank sentral dan kebijakan departemen keuangan, misalnya kebijakan uang ketat oleh Bank Sentral dan pengendalian pengeluaran oleh pemerintah.

Menurut ekonom diperkirakan BI Rate bisa sampai ke level 7 % hingga akhir tahun 2009 dan idealnya BI Rate harus berada sekitar 100 – 200 bps diatas angka Inflasi, agar bisa memberikan insentif atau sweetener bagi orang atau lembaga yang berinvestasi di SBI. Kondisi ini sangat tergantung dari peran pemerintah menjaga kombinasi harga yang rendah, supply dan demand yang stabil, panen raya dan yang jelas terhindar dari bencana alam.

Sebagian sumber dikutip dari Kompas.Com



Read More..

Senin, 04 Mei 2009

Kutbah Jum'at 10 April 2009

Meluruskan makna hari wafat Isa Almasih pada tanggal 10 April 2009. Sebelumnya mohon maaf atas informasi yang mungkin salah saya sampaikan, karena murni yang saya dituliskan disini hanya berdasarkan kekuatan ingatan dan maaf belum dicros dengan literature yang lain.

Jum’at (24/04) sekitar jam 12.05 siang, azan pertama berkumandang dari Mesjid yang tidak terlalu jauh dari kediaman saya, mengajak saya dan kaum muslimin disekitarnya untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at berjamaah. Mendengarkan kutbah Jum’at waktu itu, sangatlah menarik untuk disimak selain dari isi kutbah yang padat berisi pesan, tetapi juga dibawakan oleh seorang ustadz (lupa namanya) yang berperawakan tinggi besar, bersih dan memiliki suara lantang serta jelas.

Sejujurnya saya sangat jauh dari menguasai, memahami, mendalami segala sesuatu tentang ilmu agama yang saya anut. Namun pasti kita semua setuju, bahwa kita wajib untuk terus untuk menjadi lebih baik.

Dikesempatan tersebut saya duduk dipojok kanan baris shaf ke-4 arah kiblat, tak sengaja saya melihat kesekeliling jemaah Jum’at begitu tekun mendengarkan penyampaian kutbah yang juga merupakan salah satu rukun sahnya shalat Jum’at.
Sedikit yang dapat ditarik dari kutbah tersebut sesuai dengan judulnya adalah mengajak kita untuk memaknai dengan benar tentang peringatan hari wafat Isa Almasih pada tanggal 10 April 2009.

Selama ini telah tidak kita sadari dan secara tidak langsung seperti bentuk pengakuan bahwa pada tanggal 10 April 2009 itu adalah benar kita memperingati hari wafatnya Isya Almasih yang sesungguhnya telah jelas dituangkan di Al-Qur’an di surah An-Nisa’ ayat 157 bahwa Nabi Allah Isya bukanlah yang wafat di salib ketika itu, tetapi atas kehendak Allah SWT yang menjadi/menggantikan Isya diwaktu itu adalah seorang Shibie (menyerupai) Nabi Isya yang dipilh Allah dari satu diantara 12 orang murid/pengikut Nabi Isya, sedangkan Nabi Isya telah diselamatkan Allah SWT dalam kejadian itu. Apa yang bisa dimaknai adalah keterangan tanggal pada tiap-tiap kalender yang berada didepan kita saat ini, dirumah kita, dikantor, di restoran malahan di Mesjid dan sebagainya. Alangkah lebih baiknya penulisan keterangan tanggal pada kalender yang diproduksi selanjutnya tertulis dengan keterangan ; wafat shibie Isya Almasih bukan wafat Isya Almasih.

Al Ustadz sangat lantang mengutarakan hal tersebut diatas, dan mengajak kita untuk memahaminya secara serius.Sedangkan saya saat itu tanpa disengaja hanya mampu menganggukkan kepala mendengarkan apa yang disampaikan beliau dan mata saya langsung tertuju pada kalender yang tergantung didinding kanan atas persis disamping saya, “Aduh, benar juga ya, di Mesjid sendiri kalendernya juga menuliskan hal yang bertentangan dengan yang disampaikan pemberi kutbah Jum’at ini” miris didalam hati.
Sungguh apa yang dituliskan hanyalah untuk berbagi pada yang sempat singgah dan membaca, Hal ini ditulis bukanlah untuk mengajak perpecahan karena pasti setiap umat agama yang terkait memiliki dasar dan pegangannya masing-masing. Khusus untuk kita kaum muslimin sangat perlu mengklarifikasi hal ini dan menjawab atas apa yang disampaikan oleh pemberi kutbah.

Dan saya sendiri merasa terpanggil untuk sharing dan menuliskannya di blog saya. Terpulanglah kepada kita semua memaknai akan hal ini.



Read More..

Sabtu, 02 Mei 2009

BEDA MANAJER DENGAN PEMIMPIN


Dizaman yang serba sulit saat ini seorang pemimpin akan bisa menjelma menjadi Motivator, Coach, penerjemah, da’i, guru, jenderal atau panglima. Sangat berbeda dengan sebutan formal yang tertera pada surat keputusan pemangku jabatan seperti presiden, direktur, dirjen, sekjen, menteri, kadis, kabag, kasi (pinsi), kapolres, kacab (pincab) dan sebagainya.

Sesungguhnya sebutan bagi pemangku jabatan formal jika di klasifikasikan menurut levels of leadership hanyalah diposisi pemimpin level – 1 yang sebenarnya bukanlah pemimpin melainkan hanya seorang manajer belaka. Dengan memegang posisi menjadi bos karena Surat Keputusan (SK) praktis tidak ada orang lain yang bisa mengganggunya, bawahan ikut karena harus ikut, mereka bekerja karena diharuskan dan diawasi. Tanpa tanda tangan bos, anda tidak bisa melakukan apa-apa. Namun perlu diingat bahwa pemimpin level – 1 sudah merupakan pintu (door) untuk menuju ke level yang lebih baik.

Inilah hal-hal yang membedakan Manajer dan Pemimpin ;

Manajer akan memelihara system yang ada dan bekerja dengan system

Pemimpin akan selalu memperbaharui/menciptakan system baru

Manajer patuh, disiplin, tidak memberi ruang bagi kesalahan

Pemimpin bebas, merdeka, kreatif, berani melakukan kesalahan, tetapi tetap disiplin

Manajer menghindar risiko

Pemimpin berani menghadapi tantangan

Manajer berorientasi disini, hari ini (here & now), learning from the past

Pemimpin berorientasi kemasa depan disuatu tempat berbeda, imaginative (be somewhere one day, learning from the future)

Manajer menciptakan pengikut dan “bawahan”

Pemimpin dasarnya adalah kreativitas dan karakter

Manajer mendasarkan sesuatu berdasar kompetensi dan profesionalisme

Pemimpin tak terlalu lama memikirkan posisi, lebih pada manfaat, nilai dan tanggungjawab

Pilihan ini begitu luas dan anda yang harus menentukan apakah puas hanya menjadi seorang manajer ataukah menjadi seorang pemimpin. Pertanyaannya dimanakah saya dan anda saat ini seorang manajer atau pemimpin?.................................



Read More..

Kamis, 30 April 2009

U U _ ITE

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah disahkan DPR-RI pada tanggal 25 Maret 2008 y onlinell. Disatu pihak UU ini bisa menjadi payung hukum atas berbagai transaksi elektronik yang sekarang semakin marak, namun disaat yang sama banyak pihak yang menganggap UU ini bisa menjadi belenggu bagi kebebasan pers.
Sesuai namanya kandungan utama UU ini mengatur berbagai aspek informasi termasuk pemberitaan melalui media elektronik (internet, TV dan Radio). Beberapa pihak terutama dari kalangan media massa mengkhawatirkan UU ini dapat mengurangi kebebasan dalam penyebaran informasi. Hal itu tercermin dari tidak dilibatkannya pihak media massa oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian KOMINFO dalam membahas materi rancangan UU tersebut.
Tanggapan yang lebih keras sebagaimana marak ditulis dimedia massa, yaitu menyangkut pembatasan beredarnya situs-situs porno di internet. Banyak yang meragukan efektivitas dari UU tersebut dalam membatasi beredarnya masalah pornografi di dunia maya.
Terlepas dari sikap pro dan kontra itu, sebenarnya kehadiran UU ITE mempunyai arti yang lebih penting dalam mendukung aktivitas perekonomian yang berbasis tekhnologi informasi. UU ITE merupakan payung hukum atas berbagai jenis transaksi elektronik khususnya yang dilakukan oleh dunia keuangan dan perbankan yang selama ini belum terlindungi secara hukum. Fungsi ini yang sebetulnya belum banyak diangkat di media massa, sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahuinya.
Semakin banyaknya pengguna internet diakui telah mempu mendukung kemajuan suatu peradaban terutama dalam bidang perekonomian. Namun disisi lain, tidak sedikit modus kejahatan dibidang bisnis dan keuangan yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ini. Berbagai tindak kejahatan seperti Carding (penggunaan kartu kredit orang lain untuk kepentingan sendiri secara online) sudah marak terjadi. Malahan Indonesia sering dituding sebagai sarang Carding, sehingga kartu kredit dari Indonesia sempat ditolak dipasar online internasional.
Kasus lain, sudah banyak orang tertipu jutaan rupiah, karena tak sadar telah memberikan informasi mengenai kartu kredit kepada orang lain. Belum lagi berbagai jenis penipuan yang memanfaatkan transaksi elektronik. Para pelaku kejahatan carding dengan cerdik memanfaatkan celah lemah para pemilik kartu kredit.
Dengan diberlakunya UU ITE setidaknya menjadi pedoman dalam pelaksanaan berbagai jenis transaksi elektronik, terutama bagi kalangan perbankan. Lebih lagi karena akhir-akhir ini semakin marak berbagai jenis layanan yang memanjakan nasabah terutama kelompok masyarakat yang tergolong kaya.
Menurut laporan Asia Pasific Wealth Report 2007 yang dikeluarkan Capgemini dan Merryl Lynch pada maret 2007, mencatat diwilayah Asia Pasifik terdapat 2,6 juta orang kaya atau High Net Wort Individual (HNWI), dengan kekayaan rata-rata diatas 1 juta dolar AS. Jumlah HNWI tersebut naik 8,6% dari tahun 2005.
Orang kaya tersebut merupakan kelompok nasabah yang diincar oleh bank dengan tawaran berbagai layanan khusus. Pelayanan khusus yang sering disebut “WEALTH MANAGEMENT” ini semakin popular dikalangan perbankan belakangan ini. Maraknya layanan khusus yang umumnya berbasis transaksi elektronik ini hendaknya tidak mengabaikan prinsip prudential (kehati-hatian) dan kemungkinan terjadinya tindak pidana pencucian uang.
Dikutip dari Kolom Wacana _ Zainal Wafa Compliance News.

Read More..

Rabu, 29 April 2009

BANK [4] THE POOR


Tulisan ini tertuang diblog simple ini karena bentuk keinginan saya untuk berbagi dengan teman-teman tentang sebuah buku yang sempat dibaca hasil buah pikiran Rhenald Kasali,Ph.D tentang RE-CODE your change DNA.
Pada halaman 94 buku itu terurai singkat kisah Muhammad Yunus Ph.D seorang bankir Bangladesh, pakar ekonomi , dan dikenal sebagai penggerak mikro kredit, pada tahun 1974 beliau yang lulusan salah satu Universitas terkemuka di Amerika Serikat melakukan kunjungan lapangan ke Jobra sebuah desa di Bangladesh. Apa yang dilihatnya secara riil disana hari itu telah menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi hidup professor itu dikemudian hari dan pengaruh yang sangat besar pula bagi kehidupan jutaan orang miskin diseluruh dunia.
Saat kunjungan itu ia menemui seorang wanita muda berusia 21 tahun yang sedang membuat kursi dari bambo. Dia sungguh miskin membuat ruang lingkupnya sangat terbatas. Ia bersandar pada dinding tanah untuk menyelesaikan kerjanya. Berapa untungnya yang ia peroleh untuk membuat satu buah kursi bambu itu? Hanya dua cent!! Uang sebesar ini tentu tidak seberapa untuk hidup sekeluarga, bahkan untuk seorang diri sekalipun. Kalau untuk makan saja tidak cukup, bagaimana untuk membeli pakaian, rumah, atau membayar uang sekolah untuk tiga orang anak yang menjadi tanggungannya?
“Betapa malunya saya terhadap diri sendiri. Mereka telah terperangkap pada kemiskinan padahal yang mereka perlukan tidak seberapa dan saya sendiri mampu membantunya,” ujar professor itu.
Dalam bukunya yang berjudul Bank For The Poor, professor itu bercerita beberapa hari kemudian ia datang kembali dengan ditemani seorang mahasiswanya. Disitu ia menjadi sadar bahwa mereka membutuhkan modal yang jumlahnya tidak seberapa.
Karena mereka tak punya jaminan, maka akses ke dunia perbankan tertutup. Maka wajarlah, mereka menjadi sasaran empuk para tengkulak dan rentenir. Mereka harus membayar biaya yang tinggi, tetapi setiap saat mereka membutuhkan, mereka bisa mendapatkannya. Begitu cepat dan mudah, konsekwensinya mereka harus menyerahkan produknya kepada tengkulak itu dengan harga yang rendah. Mereka terjerat kedalam lingkaran setan kemiskinan. Apa yang mereka butuhkan adalah pinjaman tanpa jaminan dengan bunga dan cicilan yang rendah.
Mahasiswa sang professor menghitung berapa jumlah orang yang membutuhkan bantuan pinjaman, wanita yang tadi hanya membutuhkan 22 cents. Sedangkan yang lain membutuhkan kurang lebih sama, ada 42 orang dan total modal yang diperlukan hanya 856 taka (mata uang Bangladesh) atau kurang dari US$27. “Saya tidak memerlukan pemerintah untuk membantu mereka,”ujar professor.
Cerita ini adalah fakta yang menjadi cikal bakal berdirinya Grameen Bank, yaitu bank untuk masyarakat tidak mampu yang memberikan pinjaman tanpa jaminan (collateral). Sebuah sasaran yang dianggap mustahil oleh pemerintah maupun perbankan. Dan Muhammad Yunus, professor tadi adalah pendiri Grameen Bank (berdiri tahun 1976) telah merubahnya.
Bagaimana bisa melihat Kaum Miskin itu sebagai Pasar Aktif?
Kejadian di Jobra tadi menyadarkan professor akan adanya kebutuhan dan bagi ekonom kebutuhan adalah pasar. Pertanyaannya bagaimana merubah kebutuhan menjadi pasar? Sebagian orang tidak melihat pasar ini dan mereka yang melihat sekalipun, tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya apa yang dilakukan adalah hal yang benar.
Kalau ditanyakan kepada ekonom mereka akan mengatakan dengan seragam perlunya atau dibutuhkannya peran pemerintah. Bentuknya bisa bantuan, bisa juga kredit mikro. Tetapi lihatlah apa yang akan terjadi dikala bantuan/pinjaman diberikan? Tiba-tiba saja ribuan, bahkan jutaan orang merasa dirinya miskin dan berhak memperolehnya.
“Mereka tidak membutuhkan bantuan pemerintah. Mereka juga tidak butuh pelatihan survival. Mereka tahu persis bagaimana untuk survive. Dari pengalaman kami, dimana-mana diseluruh dunia keterlibatan pemerintah dalam pemberian kredit, apakah kredit mikro ataupun lainnya, tidak berhasil,” ujar Muhammad Yunus. Mereka tidak memerlukan modal dalam jumlah yang besar, tetapi sistem perbankan yang ada tidak memungkinkan mereka untuk memperoleh pinjaman. Maka ekstrimnya adalah jika pemerintah terlibat, hampir pasti sistem ini terpolitisasi.
“Kredit dan pemerintah tidak mempunyai kemistri. Pemerintah harus mengambil jarak terhadap mikro kredit,” katanya lagi.
Lantas bagaimana pasar ini ditumbuhkan?
“Kemiskinan,” adalah ….seperti pohon bonsai. Ia tumbuh kerdil karena akarnya hidup dalam wadah yang terbatas. Akarnya tak cukup kuat untuk mencari makan kemana-mana karena ia dibatasi. Anda bisa saja tumbuh menjadi besar seperti raksasa, tetapi anda tidak pernah menemukan caranya”. Caranya itu akhirnya ditemukan oleh Muhammad Yunus yaitu kaum miskin harus diubah, dari orang kampong biasa, dari orang miskin biasa menjadi seoran wirausaha. Mereka perlu diberi wadah yang lebih besar agar akarnya bisa keluar mencari makan sendiri kemana-mana.
Grameen Bank adalah bank bagi kaum miskin (bank for the poor) di Bangladesh, Grameen berarti Desa atau kampung. Untuk memperoleh pinjaman dari Grameen harus mentaati sejumlah aturan. Grameen hanya memberikan kredit atau pinjaman kepada perorangan/individual yang membentuk kelompok berjumlah 5 orang. Gagasannya adalah memberi tekanan kelompok agar anggota-anggota menjadi lebih bertanggungjawab untuk mengembalikan pinjaman. Cara ini dikenal sebagai sistem “group solidaritas”, dimana setiap anggota kelompok kecil ini bertindak sebagai rekan penjamin pembayaran dan mendukung usaha satu sama lain. Segera setelah pinjaman diterima mereka sudah harus bekerja, berusaha dan mulai mencicil pada dua minggu berikutnya.
Tidak diduga ternyata kaum miskin merespons begitu positif. Mereka percaya inilah jalan keluar, inilah kebebasan yang selama ini digarap oleh kaum rentenir. Hingga tahun 2004 Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman mikro sebesar US$4,5 miliar, dengan Recovery Rate sebesar 99%. Lebih dari 3 juta orang telah menjadi nasabah. Stephen Covey, dalam bukunya yang berjudul “The 8th Habit”, mencatat Grameen Bank telah beroperasi dilebih dari 46.000 desa di Bangladesh dan mempekerjakan sekitar 12.000 orang karyawan.
Kata kunci dari Muhammad Yunus adalah untuk membebaskan kaum miskin dengan memberi bantuan tanpa upaya menjadikan mereka sebagai pelaku usaha yang aktif, bukanlah suatu pilihan yang bijak.
Pada awal tahun 2004 Grameen Bank membidik sasarannya yaitu pengemis untuk menjadi nasabahnya. Tak diduga dalam tempo 4 bulan, sudah 8.000 pengemis menjadi nasabahnya. Mereka menjual apa saja. Karena itulah, maka dibulan April target yang semula hanya 10.000 nasabah diakhir tahun dikoreksi menjadi 25.000 nasabah pengemis.
Seperti yang ditulis oleh Mukul Pandya dan Robbie Sheel (2005), Yunus melihat bahwa pengemis yang berhasil berwirausaha akan memasuki cara berpikir baru. Mereka akan dengan sendirinya membuang mangkuk-mangkuk kaleng yang menandai profesi lama mereka. Mereka menjadi wirausahawan, selanjutnya mereka akan membutuhkan atap untuk berteduh dan menjadi pemilik warung. Dapat diramalkan kebutuhan apa yang akan muncul : rumah, uang sekolah, modal kerja dan sebagainya. Kalau saat menjadi pengemis kreditnya bebas bunga, maka tahapan selanjutnya mereka harus membayar bunganya.
Melakukan hal seperti itu bagi orang-orang tertentu tampaknya mudah, Tapi, bagi yang lainnya ternyata belum tentu. Sebagian besar orang yang tak dapat melihat peluang perubahan ini justru menghalanginya dengan mengatakan tidak mungkin, tidak bisa, gila!!, aneh!!, tidak akan berhasil dan sebagainya. Tetapi begitu anda berhasil, yang lain akan mengatakan bahwa sebenarnya mereka juga bisa melakukannya asal ada kerja keras.
Tulisan Stephen Covey mendorong agar orang-orang memiliki habit yang positif, betapa powerful-nya bekerja dengan girah nurani. “WORK-HEART”, NOT “WORK-HARD”
Inilah yang dikatakan Muhammad Yunus ketika diwawancara khusus oleh Stephen Covey. “Saya meninggalkan pola pikir seekor burung, yang memungkinkan kita melihat segala-galanya jauh dari atas, dari langit. Saya mulai melakukan pandangan seekor cacing, yang berusaha mengetahui apa saja yang terpapar persis didepan mata saya – mencium baunya, menyentuhnya dan melihatnya apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan.”
Apa yang dilakukan yunus disini dapat dijadikan pelajaran berharga buat kita semua. Yang kelihatan aneh itu bukanlah melulu sesuatu yang keliru. Barangkali itulah awal bagi sesuatu yang baru yang berlalu dimasa depan. Ketika konsepnya itu dia teruskan kepada bank milik pemerintah, semuanya menolak. Tetapi ia tidak menyerah,”Saya selalu mempercayai apa yang bisa saya lihat, sementara mereka hanya percaya pada apa yang telah mereka percayai, pada pengetahuan umum,”ujarnya. Dan itu benar-benar terjadi.
”Pada saat menerima pembayaran, saya menjadi semakin bersemangat dan saya tunjukkan kepada pemerintah. Tapi mereka pada umumnya telah dididik dengan pemahaman bahwa orang miskin tidak layak memperoleh pinjaman dan tidak dapat mengembalikannya. Mereka dibutakan oleh pemahaman pengetahuan mereka sendiri. Dan ketika uang itu saya setorkan kepada penjamin, mereka menasehati saya. Hati-hati, itu cuma awalnya saja, kata mereka, nanti begitu pinjamannya besar, mereka akan mengemplang, kata mereka lagi. Nyatanya tidak demikian.”
Kini sesuatu telah berubah, berkat terobosan Muhammad Yunus, Micro Finance telah diterima diseluruh dunia dan sekarang sudah ada lebih dari 100 negara yang mengadopsi sistem ini. Mereka semua datang ke Bangladesh, ke Garmeen Bank untuk belajar memberdayakan rakyat miskin.
Keterbukaan terhadap hal yang sehari-hari kita lihat, kita alami, kita pelajari adalah modal awal yang penting untuk sebuah proses perubahan. Jangan heran kalau mereka-mereka yang berpola pikir seekor burung tadi akan menentang dan merasa aneh terhadap setiap upaya pembaharuan.


Read More..