Minggu, 26 April 2009

KISAH SI ONIDUS & LAIN-LAIN (tamat)

Kalau bercerita tentang si Onidus rasanya seperti tak ada akhirnya. Si Onidus yang saya kenal juga berpotensi sebagai pengamat lingkungan yang bijak, disituasi kantor yang lumrah terjadi dimana-mana seperti berkeluh kesah, ngerumpi sampai dengan protes yang ekstrim dari rekan-rekan lain dari saya,dari pimpinan juga beliau tanggapi dengan tetap menjadi orang tengah yang memberi tanggapan yang biasa-biasa saja dan tidak merupah bentuk opini yang berkembang. “Saya bang lebih baik tidak memberi komentar yang bertentangan bang, lebih baik jadi pengamat saja” kata si Onidus kepada saya disuatu malam minggu ketika saya coba bertanya tentang si Wahab yang wajahnya suram pada malam itu ketika memergoki teman wanita yang cukup dekat dengannya si Otoy Guryta berboncengan pakai motor dengan pegawai OJT yang ganteng kayak Oncy Ungu.”Si Wahab membohongi perasaannya aja tu bang, sesungguhnya ada sesuatu yang dia rasakan” lagi-lagi imbuhnya dari hasil pengamatan selama ini. Saya sendiri juga memikirkan hal yang sama dengan si Onidus, Si Wahab dan Otoy Guryta tentunya ada menyimpan suatu perasaan yang tak terungkap. Kalau dari si Wahabnya memang malu-malu kucing sedangkan si Otoy Guryta jinak-jinak merpati, ini menjadi fenomena yang luar biasa kalau sijinak ketemu sipemalu (kebun binatang kali….)
Ada satu hal yang terlupakan dikisah ini bahwa si Onidus dulunya sempat berkuliah disalah satu Universitas di kota Pekanbaru sambil part time kerja di Wisma Hang Jebat namun semuanya separuh jalan. Bentuk kerasnya kehidupan di kota yang heterogen itu udah kenyang dilahapnya, semuanya masalah pilihan hidup, ia lebih memilih bekerja ditanah kelahirannya dibandingkan tetap menetap di kota Pekanbaru. Dan perlahan Onidus mulai membuktikan kebenaran pilihannya saat ini, menjalani perubahan fase kehidupan dengan harapan untuk sukses kan tergapai.
Sejak saya tidak lagi di Singkep, kami masih saja tetap berkomunikasi, meskipun tidak bisa bertemu langsung saya masih bisa minimal menanyakan kabar lewat SMS ataupun lewat Shoutmix di blog si Onidus. Begitu juga dengan si Wahab yang kini sudah berada jauh di Pelalawan. Dia juga tetap terus menjadi sahabat sejati si Onidus.
Apa yang saya rasakan dengan kisah si Onidus adalah betapa indahnya konsistensi pilihan hidup yang telah dipilih dan betapa indahnya hidup ini jika bisa saling berbagi, saling mensuport dan saling mengingatkan. Memang kelihatannya biasa-biasa saja, tetapi kalau lebih dalam untuk dicermati apa yang terjadi pada saya, Onidus dan si Wahab adalah suatu hal yang langka saat ini. Dimana orang dengan posisi jabatan yang berbeda, financial yang berbeda sangat jarang bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Selanjutnya hal yang paling utama dari persahabatan dan kedamaian yang saat ini dirasakan adalah penghormatan, rasa hormat dan menghargai serta memposisikan diri dengan benar. Tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada yang palsu semuanya dilakukan dengan tulus dan ikhlas.
Hal positif ini bukan saja terjadi antara dua ataupun tiga orang di kantor tempat kami bekerja, tetapi terjadi pada semua sesama rekan kerja. Dengan satu tujuan agar kebersamaan yang dibangun bisa membawa kehidupan yang lebih baik.
Demikianlah akhir cerita si Onidus & lain-lain, Kisah si Onidus & lain-lain saya dedikasikan buat teman-teman yang kurang lebih 3 tahun bersama di Dabo Singkep ;
P’Ikhwan,P’Danel,P’Hanafie,Syahikhwan,Sudarmo,Zulyusri,Varian,NofriSuyono,Yuniarti,Hasrinaldi,Ricky werly,UliaMunandar,ErniUtari,TitiSintaNova,Yola.F,Sarnisaharyani,OtyRulita,M.Saleh,Sudino,M.Syafi’i,Yanra GR,Supriadi. (the end)

Read More..

Jumat, 24 April 2009

PANUTAN YANG BAIK

PANUTAN YANG BAIK
حسن الأسوة

Mahmud Muhammad al-Khazandar
Terjemah : Muhammad Iqbal Ghazali
Editor : Eko Abu Ziyad
2009 – 1430
Dipublikasikan kembali oleh http://fheldi-cool.blogspot.com sumber : Islamhouse.com


وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
Orang-orang selalu memperhatikan contoh yang lebih tinggi yang mereka ikuti, mengikuti jejak langkahnya, dan menapak tilas sepak terjangnya. Dan tabiyah Islam memunculkan di dalam jiwa para pengikutnya usaha menuju yang lebih tinggi dan mendaki menuju puncak Islam, karena itulah di antara do'a 'ibadurrahman:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqan:74)
Mujahid rahimahullah menjelaskan pengertian imam di sini, ia berkata: 'Pemimpin dalam taqwa, sehingga kita mengikuti generasi sebelum kita dan generasi setelah kita mengikuti kita.'[1] Pengertian hal itu bahwa orang yang menjadi panutan yang baik selalu menapak tilas langkah orang-orang sebelumnya dalam kebaikan dan menjadi panutan bagi generasi sesudahnya. Maka dia memimpin manusia dalam perbuatan baik dan orang-orang mengikutinya, sebagaimana ia selalu berusaha mengikuti orang-orang shalih dari generasi salafus shalih. Dan inilah yang menjadi penyebab kepercayaan dengannya dan mengikutinya.
Beberapa tafsir menguatkan pengertian ini dan Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat yang mendukung pengertian ini. Sungguh hal ini merupakan kondisi pemimpin orang-orang yang berjihad, ketika Allah I menjadikannya sebagai panutan generasi sesudahnya, sebagaimana Allah I menyuruhnya agar mengikuti para nabi sebelumnya:
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.. (QS. al-An'aam :90)
Apabila para da'i dan ustadz tidak menjadi panutan di atas level ini niscaya mereka tidak bisa mendapatkan khilafah di muka bumi. Khalilullah Ibrahim u, ketika Allah I menjadikannya sebagai pemimpin yang diikuti manusia, ia berkata: …'"(Dan saya mohon juga) dari keturunanku…' Allah I mengabarkan kepadanya bahwa di antara mereka ada yang durhaka dan zalim yang tidak berhak menjadi pemimpin Dia I berfirman : '…
لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. al-Baqarah:124)[2]
Maka apabila kita ingin supaya Allah I menolong kita dalam menegakkan imamah kubra (kepemimpinan besar/tertinggi) maka hendaklah kita memohon pertolongan kepada Allah I atas diri kita supaya kita menjadi pemimpin dalam penutan dan ikutan.
Dan dasar segalanya dalam kepemimpinan yang menjadi panutan: bahwa kita mengajak manusia dengan perbuatan kita sebelum ucapan kita. Abdul Wahid bin Ziyad rahimahullah berkata: 'Hasan al-Bashri rahimahullah tidak mencapai apa yang telah dicapainya kecuali bahwa apabila dia menyuruh manusia dengan sesuatu dia adalah yang lebih dahulu melakukannya. Dan apabila ia melarang mereka dari sesuatu ia adalah yang paling jauh darinya.'[3] Dan tatkala Rasulullah r melemparkan cincin emasnya, orang-orang pun melemparkan cincin emas mereka (maka hal itu menunjukkan bahwa perbuatan lebih kuat pengaruhnya dari pada ucapan).[4]
Sesungguhnya orang yang menjadi contoh yang baik meninggalkan banyak sekali perkara yang mubah (boleh) karena berhati-hati untuk perkara agamanya, jauh dari perkara syubhat[5] dan menjauhkan diri dari tempat yang menimbulkan keraguan, karena ia membuat orang menjauh dari mengikutinya (ini sudah pasti pada para ulama dan orang yang menjadi panutan, maka mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang menyebabkan prasangka buruk terhadapnya, sekalipun ia punya alasan, karena hal itu menjadi penyebab mereka tidak mengambil manfaat dengan ilmu mereka), seperti yang dikatakan Ibnu Hajar.[6]
Dan sesungguhnya seorang laki-laki yang menjadi panutan lebih berat terhadap musuh Allah I dari segala persiapan. Karena itulah ketika orang-orang mengharapkan (emas yang mereka infakkan di jalan Allah), ucapan Umar t adalah: 'Akan tetapi aku mengharap laki-laki seperti Abu Ubaidah bin Jarrah t, Mu'adz bin Jabal t, dan Salim Maula Abi Huzaifah t, maka aku meminta bantuan dengan mereka untuk meninggikan kalimah Allah I.'[7]
Orang-orang tidak akan percaya denganmu dan tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu, sedangkan engkau hidup mewah di atas kenikmatan yang tidak mereka dapatkan. Karena itulah Ali t berhati-hati untuk dirinya dan untuk pandangan manusia, maka ia memakai pakaian bertambah. Maka tatkala sebagian orang mengkritik pakaian Ali t, ia menjawab: 'Apakah urusanmu dan pakaian, ia lebih jauh dari sifat sombong dan lebih pasti bahwa seorang muslim mengikutiku.[8] Dan dalam satu riwayat ia berkata: '(Hati menjadi khusyu' dan orang yang beriman (mukmin) mengikuti dengannya). [9]
Dan sesungguhnya orang yang turun karena berlomba dalam kenikmatan tidak akan bisa menaikit tangga taat, karena panutan itu telah mendahului dalam kebaikan dan mujahadah untuk jiwa hingga dakwah kita menjadi hidup dengan kita, karena (tidak ada kehidupan bagi pemikiran yang tidak memakai ruh manusia dan tidak menjadi makhluk hidup, melata di muka bumi dalam bentuk manusia…)[10] Maka jangan sampai seorang da'i melupakan : bahwa manusia memandang kepadanya sebagai contoh mereka yang tertinggi, yang melihat pada tingkah lakunya kebenaran dakwahnya. Maka jika ia tergelincir niscaya mereka tergelincir bersamanya. Dan jika ia kembali kepada kebenaran setelah itu terkadang mereka tidak kembali.
Sesungguhnya sebagian dari sifat orang yang berusaha yang paling nampak agar menjadi imam bagi orang-orang bertaqwa: berhati-hati dari tingkah laku buruk yang bisa membuat masyarakat umum menjadi terfitnah, dan terkadang menyamarkan kepada orang yang berbaik sangka dengan mereka, sekalipun perbuatan itu masih dalam batas ijtihad masalah far'iyah dan rukhshah (keringanan). Karena itulah tatkala Ibnu Abbas t melihat saudaranya Ubaidullah berpuasa di hari Arafah, ia mengingatkannya dengan ucapannya 'Sesungguhnya kamu adalah para pemimpin yang dijadikan panutan.'[11] Dan tatkala Umar t melarang Abdurrahman bin Auf t memakai dua khuf di saat haji –karena mengambil rukhshah (keringanan) dalam hal itu- karena Umar t merasa khawatir bahwa orang-orang (kalangan awam) menjadi melebar dalam hal itu, ia berkata kepadanya: 'Saya menyuruhmu agar melepas keduanya (dua khuf), maka sesungguhnya aku merasa khawatir orang-orang melihatmu, lalu mengikutimu.'[12] Pendirian seperti ini terulang dalam pengingkaran Umar t kepada Thalhah t saat melihatnya memakai pakain yang diberi warna, dan ia diharamkan, ia berkata kepadanya: 'Sesungguhnya k amu –wahai jamaah- adalah para pemimpin yang orang-orang mengikuti denganmu.'[13]
Sesungguhnya Abu Sufyan t saat masih kafir dan ditanya oleh Heraqlius tentang Rasulullah r, ia merasa takut berbohong, sedangkan dia adalah pembesar kaum, lalu orang-orang menceritakan kebohongannya, ia berkata: 'Demi Allah, kalau bukan karena merasa malu bahwa mereka mengutip pembicaraan bohongku niscaya aku berbohong tentang dia.'[14] Bukanlah 'Ibadurrahman lebih berhak dengan sifat jantan dan malu itu.
Seorang imam dan panutan baik: tidak mengutamakan dunia di atas saudara-saudaranya, maka sesungguhnya bagi kepemimpinan itu ada pajaknya dan untuk kedudukan itu ada harganya. Dan kedudukan tinggi dalam agama tidak bisa dicapai kecuali dengan mujahadah. Karena itulah ketika Fathimah radhiyallahu 'anha binti Rasulullah r mengadukan pecah-pecah tangannya karena menggiling penggiling gandum dan meminta pembantu maka tidak diberikan.[15] Dan Rasulullah r kelaparan sehingga meletakkan batu di perutnya untuk mengurangi rasa laparnya, tidur di atas tikar hingga berbekas di punggungnya.[16] Demikianlah keadaan orang-orang shalih yang memandang imarah (kepemimpinan) adalah hutang, bukan keuntungan.
Sebagaimana ada imamah dan panutan dalam kebaikan, maka di sana ada para pemimpin yang mengajak ke neraka, maksudnya panutan untuk kesesatan[17], dan kedua jalan itu diberikan. Apakah engkau menjadi panutan dalam petunjuk ataukah panutan kesesatan?
Sungguh keinginan kuat menjadi panutan yang baik dan berhati-hati dari penyimpangan dari petunjuk Rasulullah r mendorong seseorang seperti Abu Bakar t untuk berkata: 'Sesungguhnya aku merasa khawatir jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya bahwa aku menjadi sesat.'[18] Dan sesungguhnya orang yang berjalan di jalur mujahadah tidak senang untuk dirinya termasuk orang yang menyalahi, yang disifatkan oleh Rasulullah r bahwa
يَقُوْلُوْنَ مَا لاَيَفْعَلُوْنَ وَيَفْعًلُوْنَ مَا لاَيُؤْمَرُوْنَ
'Mereka mengatakan yang tidak mereka lakukan dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan.'[19] Dan sesungguhnya ia berusaha agar menjadi pengikut Nabi r yang digambarkan bahwa :
يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ
'Mereka mengambil dengan sunnahnya dan mengikuti perintahnya.'[20] Sebagaimana yang dikatakan oleh Malik bin Dinar rahimahullah: 'Sesungguhnya seorang alim apabila tidak mengamalkan ilmunya tergelincirlah nasihat dari hati, sebagaimana tergelincirnya air hujan dari batu yang licin.'[21]
Tidak pantas orang yang memiliki akhlak (panutan yang baik) bahwa ia seorang yang penjilat (oportunis) yang berbuat jahat bersama orang-orang yang jahat. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud t, ia berkata: 'Tanamkanlah di dalam jiwamu, jika manusia (orang-orang) berbuat baik (kepadamu) bahwa kamu berbuat baik (kepada mereka), dan apabila mereka berbuat jahat (kepadamu) agar kamu menjauhi kejahatan mereka.'[22] Demikian pula tanamkanlah di dalam jiwamu bahwa jangan sampai terfitnah denganmu para penjilat dari rakyat jelata, dan janganlah selainmu menjadikanmu sebagai pemimpin dalam kesesatan. Ibnul Arabi rahimahullah berkata dalam menjelaskan sabda Nabi r:
لاَغدرَةَ أَعْظَمُ مِنْ غدرَةِ إِمَامٍ عَامَّةٍ
'…dan tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pada pengkhianatan pemimpin yang umum.'[23] Sesungguhnya ia menjadikannya lebih besar daripada imam, karena keterkaitannya dari yang terperdaya dengannya lebih besar, maka menjadi keji karena banyaknya.[24]
Pemimpin di dalam kebaikan harus menegakkan kepalanya sebagai harga kepemimpinannya, dan hendaklah menjadi ringan dalam pandangannya segala sesuatu di jalan keteguhannya di saat menghadapi cobaan. Al-Buwaithi –khalifah imam Syafii- sungguh dipenjara dalam fitnah (cobaan) al-Qur`an adalah makhluk, diikat dengan rantai dan belenggu, dan ia tetap tidak mau mengatakan selain yang benar sekalipun bisikan, dan ia berkata: 'Sesungguhnya yang mengikutiku seratus ribu…dan sungguh aku mati di besiku ini, sehingga datang suatu kaum yang mengetahui bahwa sungguh telah mati dalam perkara ini suatu kaum di besi mereka (dalam penjara).[25]
Maka semoga, jika kita berada di atas tingkatan sebagai panutan yang baik dan suri tauladan, semoga Allah I menjadikan kita para pemimpin dan menjadikan kita sebagai orang yang mewaris (dalam kebaikan), meneguhkan untuk kita di muka bumi, dan menjadikan kita sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Ringkasan:
'Ibadurrahman selalu berusaha agar menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa
Seorang pemimpin mengikuti yang terdahulu dan menjadi panutan generasi sesudahnya.
Orang-orang yang tidak bisa menjadi panutan tidak akan diteguhkan untuk mereka di muka bumi.
Gambaran seorang pemimpin:
- Mengajak dengan perbuatannya sebelum ucapannya.
- Menjauhkan diri dari yang syubhat.
- Diinginkan oleh amir yang jujur
- Zuhud di dunia.
- Berhati-hati dari tingkah laku yang buruk agar orang-orang tidak terfitnah dengannya.
- Selalu jujur.
- Mengambil jiwa dengan semangat tinggi
Al-Khaluf adalah yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan.
Seorang panutan menanamkan di dalam jiwanya untuk selalu berbuat baik, sekalipun orang-orang berbuat jahat.Seorang panutan siap menghadapi cobaan.
[1] Shahih al-Bukhari, kitab I'tisham, dari judul bab ke 2 (Fathul Bari 13/248)
[2] Dari Tafsir al-Qurthubi 2/107 saat menafsirkan firman Allah I: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia"…(QS. al-Baqarah:124)
[3] Dikutip dari mamarrul haqq 2/91 dan munthalaq hal 255.
[4] Fathul Bari 13275 dari syarh hadits 7298, dari kitab i'tisham, bab ke 4.
[5] Di dalam Madarijus salikin 2/26: (Maka orang yang 'arif meninggalkan banyak perkara yang mubah untuk menetapkan di atas pemeliharannya).
[6] Fathul Bari 4/280 saat menerangkan hadits (…sesungguhnya ia adalah Shafiyah…)
[7] Dikutip dari Mamarratul haqq (4/87)
[8] Musnad Ahmad 1/91
[9] Dari Hayatus Shahabah
[10] Afrahur ruh karya Sayyid Quthb hal 25-26.
[11] Musnad Ahmad 1/346
[12] Musnad Ahmad 1/192
[13] Muwaththa' Malik (1/326) hadits no 10 dari kitab Haji, bab ke 4.
[14] Shahih al-Bukhari, kitab permulaan wahyu, bab ke 6, hadits no 7 (Fathul Bari 1/31).
[15] Shahih al-Bukhari, kitab keutamaan shahabat, bab ke 9, hadits no. 3705 (Fathul Bari 7/71).
[16] Shahih al-Bukhari,kitab Mazhalim, bab ke 25, hadits no. 2468 (Fathul Bari 5/116).
[17] Sebagaimana dalam tafsir al-Alusi 2/83, surah Qashash, ayat 41.
[18] Shahih al-Bukhari, kitab fardhu khumus, bab 1, hadits no. 3093 (Fathul Bari 6/197).
[19] Dikeluarkan oleh Muslim (Jami'ul Ushul 1/326) hadits no. 108.
[20] Referensi yang sama.
[21] Dari Mamarratul Haqq 2/300
[22] Misykatul Mashabih 3/1418 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani mauquf kepada Ibnu Mas'ud t.
[23] HR. at-Tirmidzi (Jami'ul Ushul 11/747 no. 9444 dan dihasan oleh Tirmidzi dan didha'ifkan oleh Arna`uth dan ia berkata: bagi sebagian alenianya ada syahid (penguat).
[24] 'Aridhatul Ahwadzi 9/42.
[25] Thabaqatus Syafi'iyah 1/275 dari biografi Yusuf bin Yahya al-Buwaithi.

Read More..

KEKUATAN PIKIRAN

Manusia adalah makhluk terlemah dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, manusia tidak bisa berlari secepat kuda, tidak memiliki tenaga sekuat gajah, tidak bisa berenang selincah ikan. Kelemahan manusia itu hanya sebatas fisik, tetapi manusia debekali dengan suatu piranti yang memberikannya kekuatan hampir tak terbatas, kekuatan yang mampu menaklukkan dunia yaitu kekuatan pikiran. Perlu diingat bahwa Kekuatan ini juga bisa membalik menjadi kelemahan manusia, inilah sifat paradok pikiran. Pikiran itu amatlah sukar diawasi, ianya amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Oleh karena itu haruslah orang bijaksana selalu menjaganya agar tercipta kebahagian.
“Kebencian” adalah emosi negative sedangkan “Kebahagiaan” adalah emosi positif. Perlu hati-hati dengan “Kebahagiaan”, karena ia justru bisa menjadi masalah. Pikiran yang terlalu melekat, atau selalu menginginkan atau berusaha mempertahankan “Kebahagiaan” justru akan menimbulkan efek negative karena keinginan untuk bahagia bisa mengobarkan api”Kebencian”. Untuk keluar dari itu semua maka kita harus mengerti dengan cara kerja pikiran atau akal.

Empat tahap proses belajar setiap manusia. Kita melewati keempat-empat tahap tersebut yaitu:
- Unconscious Incompetence
- Conscious Incompetence
- Conscious Competence
- Unconscious Competence

Kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu (Unconscious Incompetence) misalnya sewaktu kecil kita tidak tahu bahwa kita saat itu belum bisa berjalan, proses melalui interaksi dengan orang dewasa atau lingkungan saat itu akhirnya kita tahu bahwa kita belum bisa berjalan karena berjalan harus dengan kondisi tegak (Conscious Incompetence), selanjutnya kita mulai berjalan dan akhirnya kita bisa berjalan dengan sempurna (Conscious Competence), sekarang bahkan kita tak sadar lagi bahwa kita bisa berjalan dengan sempurna (Unconscious Competence).
Sejak suatu Skill telah masuk ke tahap Unconscious Competence maka sejak saat itu bila tidak dilakukan intervensi secara sadar, skill ini akan bekerja secara automatic pilot yang memudahkan hidup kita yang dijalankan oleh sistim kebiasaan yang paling dominan. Salah satu kebiasaan manusia yang paling menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran sudah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai “kebenaran” maka ia akan konsisten dengan “kebenaran” itu. “Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan “kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. “Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Sedikit diceritakan sebagai contoh tentang “kekuatan pikiran”, pada Jum’at (24/04) di Acara Kick Andy, betapa luar biasanya kekuatan dari “kekuatan pikiran” yang merupakan salah satu dari metode pengobatan yang diterapkan secara pribadi oleh comedian senior Saudara Pepeng yang divonis menghidap penyakit langka yang umumnya dihidap kalangan penduduk eropa yaitu Multiple Scho……….is.(yang dikenal dikedokteran dengan istilah “MS”) yaitu penyakit yang menyerang fungsi syaraf utama seperti disyaraf otak dan tulang belakang. Pepeng tidak depresi, beliau malah mempersiapkan diri menghadapinya, karena prinsipnya ia tahu dari hasil surving beliau diinternet bahwa penyakit yang dideritanya sejak Maret 2005 yll tidak/belum ada obatnya, untuk itu ia menggunakan “kekuatan pikiran” sebagai obat yang diberikan Allah SWT, yaitu “kekuatan pikiran” untuk sembuh dan bertahan hidup (survival) dengan tetap membangun perlawanan bersama-sama keluarga tercinta. Hasilnya sampai saat ini, detik ini beliau masih bertahan dan tetap memusatkan “kekuatan pikiran” sebagai obat yang tiada tandingannya.
Dapat ditarik pemahaman bahwa kita semua harus tahu bahwa kita bisa (Conscious Competence) dan ini sangatlah berhubungan erat bagaimana kita bisa mendayagunakan “kekuatan pikiran” yang ada. (eppie-cool)



Read More..

Rabu, 22 April 2009

CUCI MATA.... easy look

lihat-lihat shot kekaguman.................



gado-gado tuk dilirik, bukan bermaksud untuk mencampuradukan atau membandingkan satu dengan yang lain, hanya sekedar cuci mata and easy look..



























emang sih standard, tapi nantikan galeri foto yang lebih & lebih selanjutnya..................

Read More..

Senin, 20 April 2009

KEISTIMEWAAN SEDEKAH


Keistimewaan Sedekah



Penyusun : Sulaiman bin Abdul Karim Al Mufarraj

Terjemah : Tim Terjamah al sofwah al islamiyah

Editor : Fariq Gasim Anuz dan Eko Haryanto Abu Ziyad






Hak Cipta Milik Kaum Muslimin


المملكة العربية السعودية – الرياض
المكتب التعاوني للدعوة والإرشاد وتوعية الجاليات بالربوة
2009م – 1430ه‍









وصفة علاجية تزيل كافة الأمراض بالكلية
[ اللغة الإندونيسية ]


تأليف : سليمان بن عبد الكريم المفرج
ترجمة: قسم الترجمة بمؤسسة الصفوة الإسلامية - جاكارتا

مراجعة: فارق قاسم عانوز و إيكو هاريانتو أبو زياد


حقوق الطبع والنشر لعموم المسلمين


Keistimewaan Sedekah
( Renungan Bagi Orang Sakit )


Segala puji hanya milik Allah, kita selalu memujiNya dikala senang maupun susah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah -yang pernah mengalami sakit dan tertimpa cobaan- , kepada keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi ridha terhadap taqdir Allah.
Pada zaman ini berbagai penyakit semakin menyebar dan banyak macamnya. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan belum ditemukan obatnya, seperti kanker dan semisalnya, meskipun .sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah.
Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit adalah banyaknya kemaksiatan dan dilakukan dengan terang-terangan tanpa malu. Kemaksiatan yang menyebar ditengah masyarakat dapat membinasakan mereka. Allah berfirman yang artinya:
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (Surat Asy Sura 30)

Diantara hikmah penyakit yang diderita seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah kepadanya, dunia adalah tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan dan penyakit.
Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakekatnya dari Allah. Maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati.

Wahai anda yang sedang sakit menahan lara, yang sedang gelisah menanggung duka , yang tertimpa musibah dan bala, Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan.
Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.
Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan membuatmu terlepas dari derita yang bertahun tahun. Obat ini didapat dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,
"Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah"
(Dihasankan oleh syaikh Albani dalam Shahihul Jami')

Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya Allah akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan, musibah atau cobaan. Mereka dari golongan Allah yang diberi taufik oleh Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah. Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang..!!

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, "Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh". (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).

Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang janda yang memiliki anak-anak yatim dan Allah pun menyembuhkannya.

Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah, "Anak perempuan saya yang masih kecil tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya menceritakan penyakitnya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya tambah parah. Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit, hingga kami putus asa dari semuanya kecuali dari rahmat Allah. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah" (Dihasankan oleh Albani dalam Shahihul Jami') Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Sayapun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, "Engkau adalah seorang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah, hendaknya engkau bersedekah sebanding dengan banyaknya hartamu". Sayapun pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan uang yang cukup banyak. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah saya tidak pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu anak saya tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total walhamdulillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apapun. Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri pribadi maupun keluarga saya.
Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.

Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata, "Saudara laki-laki saya pernah pergi ke suatu tempat. Ditengah jalan ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluh sakit apapun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan, seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al 'ain (sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau penyempitan pembuluh darah. Kami lalu membawanya ke berbagai klinik dan rumah sakit. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan roentgen. Hasilnya, kepalanya normal saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernapas apalagi berbicara.
Saya lalu bertanya kepadanya, "Apakah engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan? Semoga Allah menyembuhkanmu". Ia menjawab, "Ada". Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku cairkan dari kartu tersebut sekitar tujuh belas juta rupiah. Setelah itu saya menghubungi salah seorang yang shalih yang mengenal beberapa orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. Saya bersumpah demi Allah yang maha mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu menerima harta titipan tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi, alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslilimin agar mengobati penyakit mereka dengan sedekah.

Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata, "Anak perempuan saya menderita sakit demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik, namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri saya berkata, "Kita akan bersedekah untuknya". Saya lalu menghubungi seseorang yang mengenal orang-orang miskin. Saya berkata kepadanya, "Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu bagikanlah kepada orang-orang yang membutuhkan". Saya bersumpah demi Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita, lima menit setelah saya menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, bermain dan melompat diatas tempat tidur. Ia pun makan hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah kemudian sebab sedekah. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah ketika tertimpa penyakit".

Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari sakunya.

Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari keluargama dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendakiNya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir.
Sedangkan bagi anda yang diberikan nikmat sehat oleh Allah, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang sehatpun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, "Mencegah lebih baik dari mengobati".
Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah…! Kalau begitu bersegeralah bersedekah…


Sumber: Buletin dakwah terbitan yayasan al sofwah Jakarta dengan sedikit perubahan redaksi


Read More..